Tampilkan postingan dengan label Menulis Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis Kreatif. Tampilkan semua postingan

Sendang-sendang di Kecamatan Minggir

Kelas menulis kreatif sudah selesai. Tugas terakhir kami yang harus dipost di blog adalah tugas ujian akhir kami, yaitu tentang sejarah atau mitos di sekitar tempat tinggal kami. Inilah mitos di tempat tinggalku, sendang-sendang di kecamatan Minggir.

Saya tinggal di dusun Sidorejo, desa Sendangrejo, kecamatan Minggir, kabupaten Sleman. Sebenarnya tidak ada mitos tertentu seperti Nyi Roro Kidul di dusun tempat tinggal saya, namun ada sebuah mitos yang dipercaya oleh kebanyakan warga kecamatan Minggir, yaitu adanya sendang di seluruh Minggir. Kecamatan Minggir terdiri atas 5 desa bernama Sendangrejo, Sendangsari, Sendangmulyo, Sendangarum, dan Sendangagung. Nama itu tentunya diberikan karena sebuah alasan yaitu adanya sendang di desa-desa tersebut. Sendang adalah sebutan untuk mata air tempat warga di sekitarnya melakukan kegiatan mandi, mencuci, dan mengambil air untuk minum dan memasak. Sendang sudah ada sejak lama, mungkin sejak zaman kolonial ketika warga sekitar belum mempunyai sumber air sendiri.
Di dusun Jamur, dusun di sebelah Sidorejo, terdapat sebuah bekas restoran gubuk bernama Sendang K-pitoe (sendang ketujuh). Bekas restoran itu diberi nama demikian karena desa Sendangrejo terkenal akan ketujuh sendangnya yaitu Sendang Penjalin, Sendang Siandong Ngaran, Sendang Jamur, Sendang Tarungan, Sendang Jarakan, Sendang Dilahan Gunung So, dan Sendang Butuhan. Bekas restoran Sendang K-pitoe berada di sebelah Sendang Jamur. Sendang itu menurut saya tidak terlalu menyenangkan untuk dikunjungi karena gelap dan berada di bawah sebatang pohon beringin. Warga dusun Jamur dikenal masih mempercayai mitos tentang pohon beringin yang dianggap keramat. Sendang di bawah pohon beringin itu diberi atap sehingga bagian dalamnya tidak bisa dijangkau sinar matahari. Ditambah pohon beringin di sebelahnya, jadilah sendang itu terkesan semakin seram. Mungkin masih ada yang mandi dan mencuci di sana, tapi lebih mungkin lagi ada yang melakukan pesugihan di sendang itu. Desas desus tentang adanya penunggu di sendang itu sudah menjadi rahasia umum. Pernah juga diadakan jathilan di sendang itu bertahun-tahun yang lalu. Saya bukan orang yang suka melihat jathilan jadi saya tidak menonton waktu itu.
Dekat dari Sendang Jamur, ada Sendang Tarungan. Sendang itu masih dipakai warga sekitar dan pernah saya kunjungi. Letaknya berada di dekat pemukiman warga dan padhang dalam artian tidak angker seperti Sendang Jamur. Sebenarnya memang karena sendang itu hanya berbentuk bilik yang bagian atasnya terbuka, tidak diberi atap sehingga cahaya matahari bisa menerangi orang yang sedang mandi dan mencuci di sana. Ya, saya tidak akan mengunjungi sendang yang kesannya angker, tentu saja. Saya kan orang yang penakut.
Sendang yang paling terkenal, paling terawat, dan dianggap paling mistis adalah Sendang Penjalin. Sendang itu merupakan pusat dari ketujuh sendang yang ada di desa kami. Di dekat Sendang itu ada Gunung Tugel yang menurut legenda adalah bukit yang ujungnya patah karena saat Sunan Kalijaga melompati bukit tersebut, puncaknya tersangkut ujung jubah sang Sunan sehingga patah. Gunung Tugel memang berarti Gunung Patah dalam bahasa Jawa. Sendang selain Sendang Penjalin, Sendang Jamur, dan Sendang Tarungan sudah tidak terawat. Ini yang saya dengar dari cerita bapak saya, karena saya hanya pernah melihat Sendang Jamur dan Sendang Tarungan. Keempat sendang yang kini tidak terawat itu airnya sudah banyak berkurang, padahal pada umumnya air sendang tidak pernah habis.
Hal yang menarik bagi saya adalah bahwa konon ketujuh sendang di Sendangrejo saling terhubung melalui saluran air di bawah tanah yang tercipta secara alami. Seorang paranormal pernah mencoba membuktikan adanya saluran air bawah tanah itu dengan menceburkan seekor bebek dari Sendang Penjalin. Masih katanya lagi, bebek itu lalu muncul di Sendang Jarakan, lalu diceburkan lagi dan muncul di sendang lain lagi. Anehnya bebek itu tetap hidup setelah melalui perjalanan panjang di bawah tanah, di dalam air pula. Saya kasihan kepada bebek malang itu. Ah, lagi-lagi ini hanya cerita dari bapak saya.
Kepercayaan tentang sendang-sendang ini lalu melahirkan sebuah tradisi. Awalnya warga yang berkunjung ke sendang percaya bahwa air sendang tersebut membawa keselamatan bagi orang yang bersuci di sana. Kepercayaan tersebut lalu dilaksanakan oleh banyak orang dan terus dilanjutkan sehingga ditentukan waktu tertentu untuk melakukannya. Sekarang pada pertengahan bulan puasa warga, laki-laki dan perempuan datang ke Sendang Penjalin dengan pakaian adat Jawa (surjan untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan) membawa kain jarik. Kain tersebut digunakan untuk mandi basahan dengan air sendang dan setelah selesai air basahan tersebut dibawa pulang. Tidak hanya air basahan, orang yang paling dituakan di antara warga itu juga mengambil air sendang dengan kendi. Air dalam kendi itu lalu bersama-sama dibawa ke dusun Kliran, desa Sendangagung.
Rupanya tidak hanya warga di sekitar Sendang Penjalin saja yang datang ke Kliran. Warga dari semua desa yang namanya diawali Sendang- juga berkumpul di desa Sendangagung untuk bersama-sama menuju dusun Kliran. Para warga itu berpakaian adat Jawa dan membawa hasil bumi berupa tumpeng serta sesajen. Sebenarnya ada apa di dusun Kliran itu sehingga menjadi tujuan arak-arakan warga? Ya, di sana ada pesanggrahan Kyai Tunggul Wulung. Pesanggrahan tersebut sering digunakan warga untuk tirakatan, memohon wahyu dan juga keselamatan. Tombak Kyai Tunggul Wulung sendiri dibuatkan agenda untuk diarak setiap tahun. Acara penghormatan untuk Kyai Tunggul Wulung ini sekarang dilestarikan sebagai kebudayaan khas Kecamatan Minggir dan setiap pelaksanaannya selalu ada pertunjukan wayang. Entahlah apakah acara itu masih dipercayai untuk membawa keselamatan atau hanya sekadar untuk melestarikan tradisi.

Di Balik Dinding Kells: Review Film Animasi The Secret of Kells

Kuliah menulis kreatif Kamis yang lalu kembali hanya mbak Abmi yang mengajar. Menurut mbak Abmi, ternyata mbak Astrid akan pindah ke Bali dan baru kembali ke Jogja ketika kuliah kami sudah selesai. Yaaah :(
Oke, kembali ke kuliah, kami menonton film lagi. Kartun lagi. The Secret of Kells, animasi yang mengingatkan saya pada Fairly Odd Parents. Hihihi.
Hihihi mukanya unyu-unyu :3
Film dibuka dengan monolog suara berbisik Aisling, pemilik wajah unyu di gambar itu. :3 Memang, saya kurang mengerti awal ceritanya dan mulai menguap ketika mencapai pertengahan film. Dari yang saya mengerti, cerita berkisar di sebuah tempat bernama Kells yang dipimpin oleh Abbot Cellach, seorang yang sangat kaku. Dia menggalakkan pembangunan dinding tinggi di sekitar Kells untuk berlindung dari serangan Northmen (Viking). Keponakannya yang selalu ingin tahu, Brendan, mendengar cerita tentang The Book of Iona yang sedang ditulis Aidan. Disebutkan bahwa Book of Iona adalah buku yang dibuat oleh malaikat, dan orang berdosa akan terbakar saat membukanya. Aidan yang berhasil melarikan diri dari penjajahan Northmen di Iona kemudian datang ke Kells. Keingintahuan Brendan tentang buku itu menjadikannya dekat dengan Aidan.

Aidan kemudian menyuruh Brendan mencarikan biji untuk membuat tinta di hutan. Brendan yang awalnya takut melanggar perintah Cellach agar tidak keluar dari dinding Kells nekat menyelinap ke hutan karena keingintahuannya tentang Book of Iona. Di hutan Brendan bertemu dengan Aisling, peri hutan yang lincah dan ceria.


Setelah mendapatkan bahan pembuat tinta, Brendan tidak sengaja menemukan tempat keramat bernama Crom Cruach, dan sekuat tenaga Aisling berusaha mencegah Brendan masuk ke sana.
Kembali ke biara, Aidan mengajari Brendan melanjutkan Book of Iona. Ternyata dibutuhkan sebuah (per)mata sebagai lensa khusus untuk menulis buku itu. Permata Aidan telah hancur ketika terjadi kerusuhan di Iona dan tersisa permata lain di Crom Cruach. Kebersamaan Brendan dan Aidan  tidak disukai Cellach yang tidak percaya akan adanya buku tersebut.

Cellach menangkap basah Brendan hendak menyelinap ke hutan pada suatu malam. Brendan kemudian dikurung di kamarnya dan Aidan diharuskan meninggalkan biara saat musim semi tiba. Pangur Ban, kucing Aidan, pergi ke hutan untuk memanggil Aisling. Aisling dan Pangur Ban kemudian mengeluarkan Brendan dari kamarnya. Setelah mengetahui niat Brendan untuk mengambil permata di Crom Cruach, Aisling setuju untuk menolong. Dalam proses pengambilan itu, Aisling terhisap dalam kegelapan Crom Cruach sehingga Brendan harus berjuang sendiri.

Brendan terus membantu Aidan melanjutkan buku itu hingga suatu hari Northmen menyerang Kells. Dinding yang belum selesai dibangun itu ditembus dengan mudah. Kells pun menjadi lautan api. Cellach sekuat tenaga melindungi rakyat Kells. Brendan dan Aidan yang lari ke hutan membawa buku yang belum selesai dihadang oleh Northmen. Aisling bersama serigala-serigalanya menolong kedua orang itu dari Northmen, berikut buku yang hendak direbut bangsa penjajah itu. Brendan dan Aidan kemudian pergi dari sana, melanjutkan buku itu hingga Brendan beranjak dewasa. Brendan kembali ke Kells dan menemukan paman Cellach-nya yang mendekati ajal. Cellach menyadari bahwa Book of Iona itu nyata dan bahwa Brendan tidak mati dalam kerusuhan. Buku itu bukan lagi Book of Iona, namun Book of Kells.

Oke, dari artikel yang saya baca di internet, Book of Kells adalah national treasure Irlandia. Seperti terlihat dalam filmnya, buku itu adalah illuminated manuscript Injil Kristen Awal (abad ke-8). Saat itu sejarah dituliskan dalam bentuk gambar-gambar yang indah. Pesan yang bisa diambil dari film ini adalah (seperti kata mbak Abmi) pentingnya kita menulis sejarah.

Oh iya, saya suka tokoh Aisling yang lincah dan ceria, juga Pangur Ban yang sempat menunjukkan ekspresi bete persis seperti kucing di dalam foto saya. So here are some bonuses:




Tatapan kedua kucing itu seolah-olah mengatakan "Let me go, human." -_-

Bunga Akhir Abad - (half of scene 2 and full scene 3)

Sesuai yang sudah saya janjikan di post sebelumnya, saya cantumkan bagian skrip drama yang saya buat. :D

-------------------------------------------

Paruh akhir adegan 2

Tiba-tiba Suurhof menarik Minke agak menjauh dari Annelies.
Suurhof : “Sahabatku, maaf aku telah berlaku tidak adil dan tidak jujur padamu.”
Minke    : “Ya, Rob, aku tahu itu.”
Suurhof : “Aku melakukannya bukan atas kejahatan, namun karena rasa sukaku pada Annelies. Ya, Minke, aku menyukai Annelies.”
Minke    : “Apa, Rob? Tidak salah yang kudengar itu? Kau menawariku untuk mendekatinya…”
Suurhof : “Aku hanya sempat melihatnya namun tidak bisa berkenalan. Aku sakit hati ketika kau bisa dengan mudah mendekatinya.”
Minke    : “Jadi kau hanya ingin memamerkan bahwa kau bisa bersama Annelies sedangkan aku tidak…”
Suurhof : “Aku masih berharap, masih mengirimkan surat kepada Annelies namun tak ada jawaban. Hingga akhirnya sekarang kalian menikah. Aku harus meninggalkan Hindia untuk melupakannya. Namun jangan sampai persahabatan kita rusak karena kesalahanku dulu, Minke. Aku akan meneruskan studiku ke Eropa.”
Minke    : “Ya, selamat jalan, Rob, semoga berhasil.”
(Suurhof pergi bersama undangan lainnya. Minke kembali ke samping Annelies)
Annelies: “Mas, copotlah cincin ini.”
Minke    : “Kau tak suka menerimanya?”
Annelies: “Aku tak pernah membalas surat Suurhof. Kembalikan saja cincin ini padanya, Mas.”
Minke    : “Ya, akan kukembalikan padanya.”
====================================
Adegan 3

Minke    : (menulis di meja, narasi dibacakan dari backstage) Setelah 6 bulan pernikahanku dengan Annelies sesuatu yang kami takutkan terjadi. Annelies dan mama dipanggil menghadap Pengadilan Putih. Mama kemudian menceritakan asal mula peristiwa panjang yang bermula bertahun-tahun yang tahun lalu ini. Maurits Mellema, anak sah dari Herman Mellema yang selama ini tinggal di Belanda tiba-tiba datang ke Boerderij Buitenzorg.
Maurits  : (masuk ke panggung dengan angkuh, Nyai sedang duduk menulis di meja kerja) “Mana Tuan Herman Mellema.”
Nyai       : “Tuan siapa? (tersinggung karena Maurits tidak sopan) Apa urusan Tuan datang kemari?”
Maurits  : “Hanya Tuan Mellema yang kuperlukan.” (lebih kasar)
Herman  : “Ada apa berteriak-teriak?” (datang karena mendengar suara kasar Maurits, kaget melihat Maurits) “Maurits! Kau sudah segagah ini!”
Maurits  : “Insinyur Maurits Mellema, Tuan Mellema!”
Herman  : “Duduklah, Maurits!” (gugup)
Maurits  : “Aku datang tidak untuk duduk di kursi ini! Tuan telah menuduh istri sahmu yaitu ibuku, berbuat serong tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri. Aku merasa terhina! Ibuku tak punya dana untuk menyewa pengacara, namun sekarang aku datang sendiri untuk membereskan perkara ini.”
Nyai       : “Apa yang Tuan inginkan dari Tuan Mellema?!”
Maurits  : (tidak menggubris nyai) “Lihat, Tuan menuduh ibuku serong namun Tuan sendiri mengambil wanita pribumi ini sebagai teman tidur selama belasan tahun tanpa perkawinan sah! Tuan telah menyebabkan lahirnya dua orang anak haram!”
Nyai       : “Sungguh tak tahu aturan!” (marah namun tetap tak digubris)
Herman  : “Kita bisa menyelesaikan….” (lemas)
Maurits  : “Aku tidak ada urusan dengan pribumi sepertimu!” (menuding nyai)
Nyai       : “Kau tak ada hak untuk mencampuri urusan keluargaku!”
Maurits  : “Aku tak ada urusan dengan kowe, nyai!” (sangat kasar dan kaku)
Nyai       : “Ini rumahku! Jangan berbicara seperti itu di sini! Pergi kau! Membuat kacau rumah tangga orang! Pergi saja kau dari sini!”
Maurits  : “Tuan tahu sekarang siapa Tuan dan betapa busuknya diri Tuan, lebih busuk daripada tuduhan Tuan kepada ibuku!” (pergi dari panggung)
===========
Minke    : (narasi masih dibacakan, Minke di panggung duduk dengan gelisah bersama nyai) Siapa yang takkan terkejut ketika ternyata masalah itu berlanjut ketika aku telah menjalani kebahagiaan ini. Mama sering mendapat panggilan dari pengadilan, sekarang Annelies pun mendapatkan panggilan utama dari pengadilan.
Nyai       : “Nak, Nyo, kurang apa penderitaanku ini? Satu persatu hilang dari kehidupanku. Kini Maurits pun ingin mengambil Annelies, anakku satu-satunya. Tidak cukup itu saja, dia pun ingin mengambil perusahaan yang aku bangun dengan susah payah ini.”
Minke    : “Apa yang terjadi, Ma? Mana bisa mereka mengambil Annelies, dia istriku, Ma!”
Nyai       : “Orang itu, Maurits, hendak mengambil hak perwalian atas Annelies sebagai adik tirinya. Punya hak apa dia? Akulah yang telah membesarkan Annelies, dan sekarang orang yang tak kukenal itu ingin mengambilnya begitu saja. Dia juga menginginkan perusahaan ini sebagai tuntutan atas warisan baginya dan ibunya sepeninggal Tuan Mellema. Padahal perusahaan ini aku yang bangun, bukan Tuan Mellema!”
Minke    : “Apa? Lalu bagaimana nasib Annelies?”
Nyai       : “Mereka akan membawanya ke Nederland, Nak, Nyo.”
Minke    : (terkejut) “Tapi Ma, Annelies kan istriku!”
Nyai       : “Nak, Nyo, sekarang sudah saatnya kita sendiri yang melawan mereka. Meskipun kita tidak akan menang, kita harus melawan sampai tidak bisa melawan lagi. Lawanlah dengan cara terhormat, Nyo. Kau bisa menulis sebagai senjatamu.”
Minke    : “Aku akan menulis tentang kita, Ma, tentang ketidakadilan yang dilakukan pengadilan terhadap kita.”
Namun seberapa besarnya kami berusaha, akhir tetaplah akhir. Kemenangan tidak bisa kami rebut. Annelies dan Boerderij Buitenzorg jatuh ke tangan Maurits Mellema. Tinggal menunggu waktu hingga dia mengambilnya. Annelies sakit karena keputusan pengadilan, terus sakit hingga tiba saatnya dia harus pergi. Kemudian suatu hari datang seorang wanita Eropa berpakaian putih dan langsung menuju pada Annelies yang terbaring lemah.
Nyonya  : “Sudah waktunya kita berangkat, Juffrouw. Kita akan naik kapal besar, mengarungi berbagai lautan, Selat Gibraltar, serta mendarat di Nederland yang indah. Juffrouw akan diasuh oleh abang Maurits yang seorang insinyur kenamaan…”
Annelies: “Ma, aku lebih suka pada ombak dan laut daripada kapal dan Nederland.”
Nyai       : “Tentu, Ann, semua yang kausukai ada di sini.”
Nyonya  : “Di Nederland ada segalanya, Juffrouw, apapun yang kauinginkan ada di sana.”
Annelies: “Mas, aku kan tidak kekurangan apa-apa di sini?”
Minke    : “Tidak Ann, kau berbahagia di sini. Semua yang kauperlukan ada di sini.”
Nyonya  : “Sudah hampir waktunya, Juffrouw.”
Annelies: “Ma, aku takkan kembali lagi ke rumah ini. Beri aku adik yang manis, yang tidak menyusahkan sepertiku.”
Nyai       : “Ann, kami telah berusaha sekuat tenaga kami, Ann… Semua sudah kami lakukan.”
Annelies: “Mas Minke, kita kan pernah berbahagia bersama? Kenanglah kebahagiaan itu, Mas.”
Nyonya  : “Kita sudah terlambat dua menit.”
Annelies: (segera pergi meninggalkan Mama dan Minke, digandeng oleh Nyonya Eropa)
---------------------------------------

Proses drama Bunga Akhir Abad

Ujian mid semester kelas menulis kreatif adalah ujian yang sangat menyenangkan bagi saya. Drama! Yeah, drama. Saya suka sekali drama, dan saya suka menjadi karakter antagonis. Hahahaha! Buhuahahahaha(tawa jahat)! Mungkin kesukaan saya terhadap drama terutama sebagai karakter antagonis ini diturunkan oleh bapak saya. Beliau pada masa mudanya sering tampil dalam drama di desa kami. Bapak antara lain memerankan orang yang akan membanting lampu duduk bila hutangnya tidak dibayar (my father hit the table before it was cool), tokoh maling yang tertusuk pisau, dan orang yang bangkit dari kematian.

Oke, jangan hiraukan bapak saya. Masih ingatkah dengan nama kelompok saya? Kelompok Merlin’s Beard. Anggota kelompok kami pun banyak yang lupa dengan nama kelompoknya. Kami harus mementaskan cerita Tetralogi Buru (Bumi Manusia) yang sudah kami baca kemarin. Seperti yang sudah saya tulis dalam curhatan tentang tetralogi Buru sebelumnya, saya membaca keempat novel itu hampir sebulan, tidak lebih. Hanya Bumi Manusia yang harus saya dapatkan dengan susah payah di Solo, namun saya puas dapat menyelesaikan tugas membaca keempat novel itu dalam waktu yang ditentukan. Novel yang harus kami baca ini hendaknya diadaptasi menjadi drama untuk ujian mid semester. Kata mbak Astrid, ceritanya boleh bergenre apa saja, mau memasukkan alien atau Annelies dijadikan Sadako di dalamnya juga boleh. -_-
Ketika mbak Astrid dan mbak Abmi memberikan tugas itu, kami dikumpulkan di panggung terbuka dan berkumpul dengan kelompok masing-masing. Ada reporter dari sebuah stasiun TV (TV apa sih itu?) yang merekam kuliah kami hari itu dan menanyakan bagaimana kuliah menulis kreatif ini, bagaimana mbak Astrid di mata kami. Uwooo… oke, abaikan dulu para reporter itu. Berbagai macam ide muncul pada musyawarah pertama itu. Saya sudah begitu bersemangat untuk mengajukan ide tentang Prinses van Kasiruta yang menembak gerombolan Robert Suurhof, namun rupanya ide itu tidak bisa masuk dalam skrip. Terlalu panjang jika harus menjelaskan tentang Prinses. Dari teman yang lain muncul pula ide tentang kisah cinta Minke dan Annelies, namun karena saya tidak suka Annelies saya tidak setuju. Tepong muncul pada pertengahan kuliah dan mengusulkan cerita flashback tentang pemecatan Minke dari HBS setelah pernikahan Annelies. Kuliah pun diakhiri tanpa kepastian tentang cerita yang akan dipentaskan. Janji latihan pun tinggal janji, minggu berikutnya kami masih sibuk dengan ujian mid yang menyiksa sehingga kami belum sempat mengerjakan drama itu padahal minggu lusa kami sudah harus tampil.
Kami baru mulai serius menulis skrip drama yang akan dipakai sungguhan 3 hari sebelum pementasan. Kecuali Rades dan Bodong, anggota lainnya lumayan berperan dalam pembuatan naskah. Tapi tidak apa-apa, mereka berdua yang notabene tidak membaca novel diberi peran yang lumayan banyak. Itu sudah kami anggap adil. Hahaha. Setelah bahas sana bahas sini, dipakailah cerita tentang asmara Minke dan Annelies, dari pertemuan mereka di Boerderij Buitenzorg, pernikahan mereka, flashback kedatangan Maurits Mellema hingga akibatnya yaitu Annelies harus dibawa ke Belanda. Berikut adalah daftar pemeran dalam drama singkat ini, ada yang merangkap menjadi 2 karakter.
·         Minke diperankan oleh Adib (biasa dipanggil Bodong).
·         Annelies diperankan oleh Danik.
·         Nyai Ontosoroh diperankan oleh mbak Sita (kakak kelas, angkatan 2007).
·         Robert Suurhof dan Herman Mellema diperankan oleh Rades (tak apalah, bapak anak).
·         Robert Mellema diperankan oleh Tepong (dafuq did I just type?!) dan juga beberapa menit sebagai Darsam tanpa dialog (cuma pamer parang).
·         Narator/suara hati Minke disuarakan oleh Tepong.
·         Bundanya Minke dan Nyonya Eropa yang menjemput Annelies diperankan oleh Ayu.
·         Ir. Maurits Mellema (antagonis merangkap wardrobe dan operator backsound) diperankan oleh saya.
·         Undangan manten Minke dan Annelies diperankan oleh teman-teman kelompok lain. Obok (Probo) memang so gay, dia mencium Bodong saat adegan salam-salaman. Fffuuu DX
Saya tentu saja paling semangat dengan urusan kostum. Hahaha! Kostum gothic lolita saya bisa dipakai untuk Annelies (yah, walaupun saya kurang menyukai karakter itu, tapi karena Dani yang memerankannya oke-oke saja). Kebetulan saya juga punya baju safari yang dibuat oleh bapak saya dulu. Hampir semua kostum yang diperlukan bisa saya usahakan tanpa mengeluarkan biaya. Teman-teman lainnya memakai pakaian mereka sendiri sebagai kostum. Untaian bunga melati untuk kalung Minke saat di pelaminan pun dibuat Ayu dari sobekan kertas. -_-
Pembuatan naskah drama merupakan hal yang gampang-gampang susah dilakukan. Kalau ditulis tangan kelihatannya sudah banyak, ternyata kalau diketik masih sangat sedikit dan garing. Maka dua hari sebelum pementasan kami memperbaiki naskah tersebut hingga benar-benar pas dan tidak terlalu garing. Saya menambahi sedikit adegan 2 dan menulis untuk adegan 3, adegan saat saya naik panggung dan mencaci maki orang. :p (Naskah yang saya kerjakan bisa dilihat pada post selanjutnya. :3) Karena Tepong muncul sangat sebentar dan hanya membaca narasi serta epilog, saya mengusulkan pada Danik untuk menukar peran Tepong dan Bodong pada adegan pertama, Tepong menjadi Minke dan Bodong menjadi Robert Mellema, namun Danik berkeberatan karena pasti Bodong akan bingung (oke, saya tak berpikir sejauh itu namun langsung setuju tentang Bodong -_-).
Celakanya, pada awal latihan yang dilaksanakan sehari sebelum pementasan, 2 orang yaitu Bodong dan Tepong berhalangan hadir. Saya, Danik, Ayu, Rades, dan mbak Sita latihan hanya berlima dan saya merasa cemas dengan tidak munculnya kedua orang tersebut. Bodong tidak muncul pagi harinya, baru muncul pada pukul 11.00 dan langsung berkata bahwa dia hanya bisa latihan sampai jam 4 (mulai latihan direncanakan pukul 3 setelah Minke muncul). Alhamdulillah kuliah jam 1 diakhiri pukul 13.45 sehingga kami bisa langsung latihan meskipun Tepong belum muncul. :’) Kemudian sekitar pukul 14.30 Tepong akhirnya muncuuuuul… Yeeeay \(ToT)/
Kelompok kami pun lengkap dan kami latihan dengan gembira (ya iyalah gembira, si Bodong aktingnya terlalu konyol). Setelah diusir dari kelas B107 oleh bapak-bapak juru kunci, kami pindah ke panggung terbuka dan mengulang latihan dari awal. Kami juga memutuskan untuk membawa teks ketika pentas besok, daripada akting kami menjadi canggung di atas panggung nanti. Sungguh, saya bersemangat sekali mengurus drama ini. :’) Hanya 1 yang disayangkan, Tepong tidak mempunyai kostum orang Madura sebagai Darsam.
Hari H drama, tanggal 25 April pagi, saya membawa banyak kostum cadangan yaitu kebaya putih dan baju safari pendek abu-abu untuk Tepong sebagai Robert Mellema. Hal yang mengkhawatirkan terjadi. Danik SMS, minta dibawakan rok putih untuk Ayu. Wah, padahal kemarin Ayu bilang akan membawa rok sendiri. Kesulitan itu teratasi ketika kami sudah berkumpul dan Ayu ternyata membawa roknya sendiri yang sempat ketlingsut di dalam kotak. Seperti kemarin, kami pun menunggu Bodong dan Tepong datang belakangan. Kami ribut saling menyuruh Bodong segera berangkat karena kemarin dia mengatakan akan begadang nonton Liga Champion jadi minta dibangunkan keesokan paginya.
Setelah anggota kami lengkap, kami berlatih 1 kali di selatan laboratorium komputer sebelum tampil termasuk memilih dan menentukan backsound. Backsound yang kami gunakan yaitu:
·         Loving You, instrumental romantis untuk adegan Minke dan Annelies berjalan-jalan.

·         Degung Instrumental Bali Wakarete mo Sukina Hito untuk adegan resepsi.
·         The 6 Station, instrumental galau untuk kegalauan Nyai dan Minke tentang keputusan pengadilan.
·         Psycho, musik instrumental sedih untuk adegan kepergian Annelies.
Kemudian kami turun ke Panggung Terbuka FIB, bersiap-siap tampil, dan menata posisi di panggung. Tepong membawa parang sungguhan, lho… >o< Terjadi delay sejam karena sempat juga kami menunggu Bodong yang kabur ke toilet lama sekali sebelum drama, tampaknya karena gugup (sungguh manusia yang merepotkan…). Drama pun dimulai. Judulnya Bunga Akhir Abad, baru tercetus semenit sebelum kami tampil.
Dalam proses akting ternyata Danik tidak mau ganti dengan baju gothic lolita sebagai baju pengantin. Mbak Sita juga ternyata memakai celana panjang, bukan kain jarik. Ternyata para pemeran wanita lumayan ribet jika harus ganti-ganti kostum. Wah… :’( Sebenarnya tidak apa-apa, kelompok sebelahpun hanya memakai pakaian sehari-hari. :D Selain itu semuanya baik-baik saja menurut saya, kostumnya sudah pas. Saya sendiri, yang tampil tidak sampai lima menit, malah berkostum lengkap. Over all drama berjalan lancar, penonton heboh melihat kelucuan Bodong, akting kami pun lumayan, hanya kelebihan beberapa menit untuk mengurus tetek bengek macam pergantian karakter dan penataan posisi. Suara teman-teman sepertinya terlalu pelan ketika berakting atau hanya karena saya berteriak-teriak di atas panggung? Menurut saya, drama kami akan lebih sempurna kalau kami menghapalkan dialog, tapi saya sudah cukup puas secara keseluruhan.
Selepas drama selesai saya tiba-tiba merasa sangat tidak enak hati, lapar dan haus (karena sedang nyaur hutang puasa dan drama dilakukan di bawah kanopi yang panas), dan pusing. Aaaah, mungkin hanya karena pergantian kostum tidak bisa dilakukan. Tidak apa-apa. Sampai di rumah saya masih tidak enak hati namun segera tidur untuk melupakan kelelahan saya, seperti Suurhof melupakan cintanya yang tak sampai kepada Annelies (cieee cieee).
Oke, di akhir review, seperti dalam pelajaran sekolah, nilai-nilai yang bisa saya petik adalah drama ini menyatukan anggota kelompok yang awalnya terikat gengsi masing-masing. Kami bekerjasama mengerjakan naskah, saling mengoreksi, memberi saran, dan melakukan yang terbaik bagi drama kelompok kami. Saya akui saya menjadi lebih dekat dengan teman-teman yang awalnya kurang komunikatif. :D Alhamdulillah mbak Sita sangat rajin latihan dan sangat berperan besar bagi pembuatan naskah kami. Yah, stereotipe kakak kelas yang tidak mau bekerjasama tidak berlaku bagi mbak Sita. Thank you so much, mbak! :D Hal yang perlu dikoreksi hanyalah kehadiran Tepong dan Bodong dalam kelompok, semoga kalau ada kerja kelompok lagi mereka lebih bisa diandalkan. -_-
Jujur saja, karena saya sangat menyukai drama, saya ingin tampil dalam drama lagi. Belum puas dengan penampilan saya yang sedikit ituuuu. :’( Semoga saja usul mbak Astrid bagi kelas untuk membuat drama Tetralogi Buru bisa direalisasikan. :’(
Pokoknya drama kami ini membuat penonton senang, mbak-mbak dosen senang, aktor senang, semua senang. Yeeeey :D

Kisah Marji dari Teheran: Review Film Animasi Persepolis


Kelas Menulis Kreatif kemarin adalah menonton film animasi Perancis berjudul Persepolis. Saat melihat judulnya, saya langsung tertarik. Saya cenderung suka sebuah judul yang tidak panjang.
Adegan dibuka dengan animasi sederhana yang memunculkan figur seorang wanita muda mengenakan jilbab yang sedang berada di bandara. Sebentar kemudian, animasi itu menyoroti masa lampau seorang gadis kecil dan serta merta warna-warni itu menghilang. Animasi hitam putih. Ya, saya sudah sering melihatnya dalam anime yang menggambarkan masa lalu dengan warna yang lebih suram, kadang berwarna sepia. Flashback dalam Persepolis terasa suram dan agak menakutkan, mirip dengan game horor Limbo.
Adegan hitam putih yang ternyata berlangsung lama itu menceritakan masa kecil wanita di bandara yang bernama Marjane Satrapi atau biasa dipanggil Marji, di Teheran, Iran. Cerita saat itu berkisar di seputar kehidupan keluarga Marji yang menganut paham komunis. Oke, sampai di sini saya kurang mengerti film itu, karena ternyata animasi sederhana itu mengangkat tema yang cukup berat. Kita lompati saja bagian ini menuju bagian yang saya mengerti. :P
Di Teheran, wanita yang berada di luar rumah diharuskan memakai jilbab, meskipun mereka tidak beragama Islam. Mbak Astrid sudah menjelaskan di kelas bahwa agama asli Iran adalah Zoroaster atau penyembah api. Sebagian besar orang termasuk Marji mengenakan jilbab dengan sebagian poni terlihat, dan dalam film itu diperlihatkan bagaimana guru-guru sekolahnya memprotes kesenangan Marji terhadap musik punk, sneakers yang dipakainya, dan mengharuskan Marji menutupkan jilbab ke poninya.
Ketika terjadi kerusuhan yang melibatkan kaum komunis, orangtua Marji memindahkan Marji ke Wina, Austria untuk tinggal bersama teman ibunya. Usaha tempat tinggal itu ternyata tidak berhasil dilaksanakan sehingga mulai timbul banyak masalah pada Marji. Marji tumbuh besar di Austria, hingga kemudian dia merasa terlantar di negara tersebut dan memutuskan untuk kembali ke Teheran.
Animasi ini menarik bagi saya pada aspek penggunaan warnanya. Hitam putih yang ditampilkan sama sekali tidak membuat saya bosan karena ceritanya membuat saya terhanyut dan melupakan warna-warna yang sebentar tadi ditampilkan di awal film. Aspek yang saya sukai dari film ini adalah animasinya (saya suka animasi) dan bahasa Perancis yang menurut saya adalah bahasa tersekseh :P namun ceritanya yang tentang politik tidak terlalu saya sukai.

Review (baca: curhatan) tentang Tetralogi Buru


Jujur saja, ketika pertama kali membaca bagian kedua tetralogi Buru saya dibuat agak terkejut dengan gaya penceritaan dan istilah-istilah lama. Dan lembar demi lembar, jujur saja saya kurang menyukai tokoh utama, Minke, pada sifatnya yang hanya menyukai perempuan cantik. Yah, semua bisa bilang “itu tandanya laki-laki normal”, tapi karena saya bukan orang yang cantik, maka saya tidak setuju.
Cukup curhatnya.
Tetralogi Buru. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Hmmm. Jauh lebih hebat daripada Tetralogi Laskar Pelangi pastinya karena seperti mbak Astrid bilang, keempat buku ini telah melewati perjalanan yang sangat berat untuk bisa berada di tangan saya sekarang. Saya membaca mulai buku kedua hingga keempat, baru yang pertama. Bumi Manusia saya cari dengan sangat bersusah payah karena di seluruh pelosok Jogja telah habis (tinggal versi ilegal di shopping centre :P), dan berhasil mendapatkannya di Gramedia Pusat Solo.
Saya tidak menyesal membaca buku tebal-tebal ini, terutama karena setting waktunya adalah zaman dulu, transisi abad 18 ke abad 19. Menakjubkan membayangkan masyarakat Jawa saat itu masih banyak yang belum bisa baca tulis dan masih merasa takjub melihat sepeda untuk pertama kalinya (termasuk Minke). Saya suka keadaan pada zaman itu, saat teknologi belum membuat orang menjadi individualis. Bagian yang paling saya sukai adalah kisah Surati, anak Sastro Kassier, yang diminta menjadi gundik Administratur pabrik gula Tulangan, Vlekkenbaaij atau Plikemboh. Sangat terasa suasana pedesaan Jawa pada zaman kolonial.
Tokoh yang saya sukai adalah Nyai Ontosoroh karena dia adalah tipe wanita perkasa seperti ibu saya. :D Dengan sangat piawai dia membangun kerajaan bisnisnya dan dengan sangat berani pula mengusir Tuan Herman Mellema ketika datang dan memaki-maki kepribumian Minke. Selain Nyai Ontosoroh, saya juga menyukai karakter Prinses van Kasiruta yang gagah berani melindungi Minke menghadapi gerombolan Robert Suurhof. Mereka berdua adalah contoh dua wanita perkasa. Dan satu lagi yang saya sukai meskipun karena kekurangajarannya adalah tokoh Sarimin, yang memeras Pangemanann dengan sangat liciknya.
Kebosanan? Ya, jelas ada bagian yang membosankan, yaitu saat buku mulai menceritakan keadaan negara, tentang politik, dan kutipan surat yang panjang-panjang. Bagian-bagian itu membuat cerita berhenti di tempat, menjadi pasif, menjadi berputar-putar. Membuat ceritanya menjadi tidak mengalir. Kadar kebosanan yang terdapat dalam buku ini meningkat dari buku pertama hingga keempat. Rumah Kaca terlalu membosankan bagi saya karena banyak pembicaraan tentang Hindia.
Sedangkan itu, tokoh yang tidak saya sukai adalah Annelies Mellema. Bagaimanapun alasan gadis itu menjadi manja, entah karena tidak pernah bergaul atau karena masa kecilnya kurang bahagia, saya tidak mentolerir. Saya tetap tidak suka pada Annelies. Lihat saja pada buku pertama ketika dia memaksa Minke mendongenginya sebelum tidur. Dan kecantikannya yang digambarkan seperti bidadari itu, uh, membuat Minke bertekuk lutut. Itu bukan percintaan yang tulus menurutku, karena hanya menyukai penampilan saja. Annelies sama sekali tidak dewasa. Dan sifat kekanak-kanakannya itu yang menyebalkan. Coba saja bandingkan dengan Prinses van Kasiruta yang bisa menembak gerombolan Robert Suurhof. Saya senang Annelies mati.
Lagi-lagi curhat. =_=
Over all, saya menyukai tetralogi ini, karena kadang-kadang alur ceritanya melompat dan menampilkan suatu kejadian yang mengejutkan.

Diskusi dengan substansi tak bernyawa

Aku pikir Sang Waktu adalah substansi tak bernyawa. 
Matikah engkau, Waktu?
===========================================

“Maafkan bila aku melupakan kehadiranmu, padahal kau selalu mengalir meliputi seluruh jagad raya, meliputi setiap raga dan hembusan napas yang mungkin tak sekalipun mengacuhkanmu. Atau mungkin kami sama sekali tak mengetahui bahwa kau ada?”
Untaian kalimat itu tak berlanjut. Kata benakku, Sang Waktu tak perlu mendengarkan suara dari mulutku, dan aku cukup bersenandung dalam sanubariku untuk bisa menyampaikan apa yang belum sempat kuucapkan kepadanya.
“Apakah menjadi salahku, bila sekarang kau hanya termenung dalam keramaian dunia ini?” Sang Waktu-lah yang lebih dulu menyapaku. Wajahnya tak menunjukkan suatu emosi. “Kau tampak kesepian, padahal begitu gaduhnya suara-suara orang yang berusaha mengejarku.”
Dia tak mau berhenti barang sejenak saat mengatakan itu padaku. Dia tak ingin. Maka aku mulai berjalan bersamanya. Berjalan di dalamnya.
“Semua bilang kau yang akan menjawab segala pertanyaan,” timpalku penuh harap. “Cinta, perasaan, kesembuhan…”
Sang Waktu tertawa. Frekuensi langkahnya tetap teratur. “Aku hanya menyertai proses,” katanya dengan maksud yang masih kurang kupahami.
“Aku hanya ingin merunut apa yang menjadi sebab perenunganku ini. Aku hanya ingin terbang kembali ke ragamu yang telah lalu, melihat apa yang telah kulalui,” aku menelengkan kepalaku, “dan apakah Sang Waktu sendiri mengalami suatu waktu atas dirinya sehingga Sang Waktu mengalami masa yang telah lalu?”
“Kau ingin melakukan regresi? Padahal aku tak pernah berhenti berjalan. Kau berjalan bersamaku untuk menguraikan semua keingintahuanmu namun pikiranmu mengembara ke masa lalu,” dia kembali tertawa.
“Apakah kau menuntunku melakukan hal bodoh itu dulu?” tanyaku tanpa menggubris gelak tawanya.
“Hal bodoh yang mana?” tanya Sang Waktu tanpa emosi membayangi wajahnya.
“Jatuh cinta,” gumamku, tanpa yakin wajahku merah atau tidak, kemudian kubuang mukaku.
“Aku hanya menyertai proses itu,” ulangnya gemas, setengah jengkel, setengah geli. “Hanya nuranimulah yang beranggapan bahwa hal itu bodoh.”
“Mengapa aku mesti memulainya, kemudian mengakhirinya?” aku bertanya lebih lanjut meskipun aku tahu itu adalah pertanyaan yang retoris. “Seiring perjalananmu, mengapa perasaanku bisa terhapus?”
“Hei, manusia, jangan selalu menyalahkanku,” Sang Waktu mendengus keras. “Kau sendiri telah mengatakannya, perasaanmu berubah dalam iringku. Aku hanya mengiringi perjalanan setiap manusia. Aku tidak pernah menjangkaukan tanganku dalam urusan kalian. Perubahan perasaan itu kan kata nuranimu sendiri?”
Aku kini yang terdiam, begitupun langkahku. Sementara itu Sang Waktu terus berjalan sehingga aku harus cepat menyusulnya lagi.
“Kalau begitu, kaulah yang menyembuhkan luka atas kesedihan dan perpisahan.”
Sang Waktu tidak berpaling meskipun aku bertanya dengan terengah-engah karena berlari-lari mengejarnya. Dia tak mengeluarkan selembar suara pun. Sosoknya tak berhasil kuraih.
“Tidak, aku tidak memiliki kuasa apa pun atas segala sesuatu,” nada suaranya merendah. “Aku hanya terus mengejar sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang tak kuketahui. Aku hanya terus berjalan. Rasa lelah pun aku tak punya.”
“Tapi segala rasa negatif memudar bersamamu!” teriakku, tetap merasa lebih benar. “Kau memiliki daya tarik atas segala keburukan yang ada di dunia! Kau dapat membuang keburukan itu di suatu tempat yang aku tak ketahui namanya, mungkin kauberikan pada Rasa Lupa atau pada Kerelaan!”
“Ya, namun seiring aku berjalan, ada pula yang membusuk. Buah bisa menjadi ranum bersamaku, namun tak selamanya. Bila selamanya dia bersamaku, tanpa suatu reaksi dari manusia, dia akan membusuk. Mungkin seperti itulah perasaanmu, ranum bersamaku, namun membusuk karena terlalu lama kau tak menjamahnya dengan pengertian,” Sang Waktu membisu sebentar dan melanjutkan sebelum aku sempat berargumen lebih lanjut, “Semua hal berlaku padaku, dua sisi. Sisi baik dan buruk, kecuali satu hal…”
“Tunggu aku!” panggilku kelelahan.
“Kecuali satu hal itu,” Sang Waktu nampak tidak mempunyai rasa iba. “Aku terus berjalan, namun aku tidak bisa kembali.”
“Tapi kenapa? Aku ingin berbicara dengan tenang denganmu.”
“Aku tidak diciptakan untuk kembali. Bila aku kembali ke tempatku berawal, dunia akan hancur. Sejarah akan berubah. Dimensi akan terputarbalik. Dan manusia akan menjadi gila.”
“Kami telah menciptakan banyak alat untuk bisa menyelami dirimu yang telah berlalu!” teriakku dengan sedikit percikan rasa congkak. “Kami akan bisa mengejarmu ke masa yang akan datang!”
“Pernahkah sekian dari alat-alat itu berhasil menembusku?” Sang Waktu mengeluarkan suara mencemooh. “Apakah kehebatan kalian itu bukan hanya omong kosong untuk saling membodohi dan memperdaya? Dan hal itu kalian lakukan hanya untuk menggali kesia-siaan seperti perasaan yang terbuang percuma kemudian kalian sesali? Dan kalian menyalahkanku?”
Aku memilih mengunci suaraku, hanya terus mengejar langkahnya yang teratur. Aku tahu, meskipun aku benci mengakuinya, bahwa manusia tidak pernah mengalahkan sosok yang terus melangkah itu.
“Bila kau ingin merangkumku dalam kehebatanmu, Manusia, kau harus mempercayai bahwa aku tidak pernah berpaling. Aku memang kejam, aku menyaksikan berbagai peristiwa kelam terjadi, namun hanya bisa membiarkannya. Kaupikir mengapa kalian terlahir?”
Aku tidak tahu, erangku dalam hati.
“Karena hanya tangan kalianlah yang mampu mengubah semua peristiwa itu… aku hanyalah saksi bisu yang tak berdaya. Aku menyerahkan bagian-bagian diriku untuk kalian bisa bernapas. Untuk bisa lahir, melakukan sesuatu, kemudian mati. Aku melihat semuanya. Aku menemani proses berjalan bersama kalian, namun tak ada yang berbekas padaku. Tak mungkin tanganku meraih abstrak-abstrak bernama perasaan itu, bahkan aku sendiri tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Aku terus berjalan mencari sesuatu yang tak pasti. Aku bahkan tak tahu kapan aku harus berhenti.”
“Kalau kau berhenti, maka kehancuran dunialah yang kaubawa! Kau tak bisa lagi menyaksikan banyak hal. Kau tak bisa lagi mencemoohku!”
“Manusia,” Sang Waktu menghela napasnya. “Sama sepertimu, aku pun berasal dari kehendak Tuhan. Bila Dia menghendaki aku berhenti, aku akan berhenti. Tapi apakah kau tahu apa yang selalu kubawa bersamaku bagi kalian? Sesuatu yang dapat kalian andalkan bila kalian tak tahu lagi apa yang harus terjadi?”
“Apa itu?”
“KENISCAYAAN.”
Sang Waktu melanjutkan langkahnya, menyorongkan Sang Keniscayaan kepadaku yang masih terdiam, dan menyongsong Sang Keabadian yang setia menunggunya.

Ice-breaking

Mitsukekita ano nakigoe wa
machigainakusou jibun no datta
subete wa kono toki no tame ni
I've found it, that crying voice
no doubt, that's right, it was my own
all of it was for this moment...
FLOW - Sign
===========================================

Setelah mengirimkan foto orang yang sulit diajak bicara kok rasanya kurang puas, ya? Apa karena usahaku kurang maksimal? Setelah saya pikir-pikir lagi, saya akhirnya bertekad untuk mengajak bicara seseorang yang saya kenal baik ketika SMP (jaman saya masih alay). Narasumber tidak ingin disebutkan identitas sebenarnya karena dia sangat pemalu. -_- Sebut saja Nara, mahasiswa UNY.
Wawancara berlangsung via SMS, selain karena sangat sulit untuk bertemu dengan yang bersangkutan juga karena keterbatasan waktu pengumpulan tugas ini (saya benar-benar orang yang selalu mendapatkan ide cemerlang saat kepepet). Walaupun hanya melalui SMS, hal itu pun sangat sulit dilakukan, yah… mengingat banyak hal yang terjadi pada masa lalu yang membuat saya canggung sekali berbicara dengannya. >///<

(Y : saya, N : Nara)

Y : Nara?
N : Siapa ya?
Y : Hm, ini Narita (panggilan saat masih SMP dan SMA)... Ganggu nggak? Tenang aja, aku gak aneh-aneh kok..
N : Oh nggak kok. Yasalam, santai aja ya. He. Ada apa ya?
Y : Hehe basa basi dulu nggak ya? Gimana kabar? Kamu di UNY to sekarang?
N : Hahah basa basi dulu boleh kok. Langsung juga gak masalah. Alhamdulillah baik, kamu kak? Iya. Heheh.
Y : Opo kakak kakak he? Alhamdulillah baik juga aku. Eh jadi gini, aku dapat tugas interview orang yang paling sulit aku ajak bicara, ya contohnya kamu ini. Ehem. Berhubung sangat nggak mungkin ketemu kamu, lewat sini aja =_=v Jadi, bisa tak tanya-tanya dikit?
N : Kan lebih tua. Heheh. Oh gitu. Oke gak papa, tapi gak usah sulit-sulit ya. He. Kalo sulit nggak aku bales. He. :P
Y : Ah Cuma ngobrol biasa-biasa aja. Damn this is awkward. Masih ngikutin Naruto sekarang? Ckck Shikamaru.
N : Hahah oke. Ckck kalem to sante to. :P Akhir-akhir ini missed beberapa chapter je. Yess I still like that character. Kenapa kak Temari? He.
Y : Nope, I just think that Naruto always reminds me of you. You don’t need to worry, I just remembered the past but I won’t make you uncomfortable. Sorry if it bothers you, but I hope it doesn’t.
Y : Does it bother you?
Y : Maaf lho, aku nggak aneh-aneh… Nyesel ni :o
(Ketiga SMS di atas saya kirim karena tidak segera dibalas, saya orang yang tidak sabaran kalau menunggu balasan SMS.)
N : It doesn’t matter. Sory bar tak tinggal isya’an. He. So take it easy please. He.
Y : I’ll write in English since I’m kinda shy right now =.= so how about those stuffs?  You know what stuffs I mean..
N : Do you mean Naruto? :O Take it easy. :))
Y : Ah nope, not Naruto. == Just forget it. Since so many years have passed, I just wanna apologize for everything I have done then. I was so immature back then. And you, you’re just so kind. I’m really sorry, really, for everything. 
Y : You still there?
(lagi-lagi tidak sabar)
N : Oh sorry. :)) Oh masalah itu, gak papa soal itu. Anggap aja semua baik-baik saja. :’)) Beneran lho ini, gak usah dipikir panjang. Ok?
Y : Ya akupun gapapa. Mungkin aku belum pernah minta maaf secara pantas aja sama kamu. Kamu selalu baik sama aku. Pokoknya kamu baik banget.
Y : Inget waktu pulang sekolah ketemu di perempatan Gedongan? (setelah pisah)
N : It’s not fair, so let me to apologize too. For everything I have did. ;)) Yeah, masih ingat itu.
Y : Hehehe, waktu itu kayaknya kebetulan banget. Lagi ngrasani kamu kok ternyata ketemu beneran di Gedongan.
N : Wah makanya kupingku agak gatel gitu. Hahah. O iya aku nyimpen nomermu yang dulu. Udah gak aktif ya?
Y : Ganti yang ini nomerku. Musasi (panggilan Nara waktu SMP) gimana kabarnya? Hahaha
N : Hahah sama kayak aku kok kabarnya. Masih ngikutin One Piece? Tambah sangar wae. He.
Y : Tak cari FBmu gak nemu e. Aku gak ngikutin apa-apa e sekarang, Nico Robin dah gak punya poni toh? Wkwk. Ming tiba-tiba pengen cosplay Temari, njuk inget kamu, njuk ngontak kamu deh ==
N : Ganti nama aku, pake nama aslimu. Aku juga kepoin FBmu gak nemu. He. Iya, tambah cantik aja. Wak, Shikamaru emang keren. Hahah.
Y : Ooo podo-podo kepo malah sliwer kabeh. Aku gak temenan sama anak Nexago kecuali Boncel sama Rony e. Hahaha. Heh kamu jadi Shikamaru sana. Gondrong gak kamu sekarang?
N : Betapa ra kalapnya kita. Hahah. Oh gitu. Kirain hilang dari dunia maya. Nggak je, tapi masih ganteng. *macak Shikamaru* :))
Y : Dat poker face. Masih Liverpudlian nggak sekarang? Aku masih punya anduk sama kaos Liverpool, gara-gara kamu dulu :P
Y : Jadi baca-baca catetan jadul. Dulu kemah SMP kamu cantik. Hehehehe (dia pernah menjadi perempuan saat acara kemah SMP)
N : *-* jelas masih setia. Born to be Reds. Wakakak. Waow that’s cool, girl. Ckck. Hei, don’t talk about camp history. :’( That was the most awkward moment ever. -_-
Y : Udah aku tulis setiap detil kemah dulu. Masih ada tu diarynya. Hahahaha kamu jadi bulan-bulanan di kelas. Hahaha
N : Simpan aja ya, gak usah dishare lho. Woo
Y : Makasih ya kamu dah bantuin tugas kuliahku.. Besok setelah kuliah ini aku boleh hubungin kamu ya?
N : Lah ini tadi pertanyaan tugas? It’s too easy to answer.  Heheh. Sure, silaturahmi gak boleh putus. Hahah *macak kyai*

That’s all. And yes, he’s my ex. He’s my first love in the junior high school. He’s a very kind person, really, he’s very kind. Since many years have passed, I think it’s OK to talk to him again. Dan wawancara ini berhasil memecahkan kebekuan yang saya rasakan bertahun-tahun setelah berpisah darinya. Bersama wawancara ini saya tidak lagi sulit berbicara dengannya, dan saya bisa menyatakan permintaan maaf yang belum sempat saya sampaikan kepadanya, yah… walaupun hanya lewat SMS. :)